Korona Matahari
Inti Matahari adalah wilayah terpanas dari bintang induk kita, tetapi suhu Matahari justru tidak berperilaku seperti yang diharapkan oleh para ilmuwan. Dengan massa jenis yang 10 kali lebih padat dari logam mulia emas, inti Matahari memiliki suhu sekitar 15.000.000°C. Semakin jauh dari inti, suhu lapisan-lapisan Matahari akan lebih dingin dan massa jenisnya akan menjadi kurang padat.
Namun, fenomena yang menentang semua logika justru terjadi di lapisan terluar atmosfer Matahari yang disebut korona. Sementara permukaan suhu di permukaan Matahari adalah sekitar 6.000°C, korona justru beberapa ratus kali lebih panas. Fenomena di korona merupakan kebalikan dari api, karena semakin menjauh dari api, seharusnya suhu akan semakin dingin. Pertama kali ditemukan selama gerhana yang berlangsung pada tahun 1800-an, para ilmuwan menyebut fenomena aneh itu sebagai “Permasalahan Pemanasan Koronal”.
Korona cenderung sulit diamati, karena terlalu redup jika dibandingkan dengan kecerahan Matahari itu sendiri. Namun korona dapat diamati bahkan dengan mata telanjang, ketika Bulan menghalangi Matahari, sebuah aktivitas alam yang disebut Gerhana Matahari Total. Untuk memahami bagaimana misteri itu ditemukan, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang bagaimana para ilmuwan mulai mempelajari sifat-sifat kimiawi di Bumi. Pada awal tahun 1800-an, sebuah instrumen yang diberi nama spektroskop diciptakan untuk mengidentifikasi material yang memancarkan cahaya saat dipanaskan. Cahaya memasuki spektroskop dan disaring melalui lubang kecil untuk mengisolasi satu area. Cahaya kemudian memantul dari sebuah kisi khusus yang menghamburkan cahaya ke panjang gelombang yang berbeda.
Sementara cahaya Matahari mengandung setiap panjang gelombang, para ilmuwan menemukan bahwa setiap unsur dan senyawa kimia mengandung pola panjang gelombang unik, yang memungkinkan para ilmuwan untuk menentukan komposisi sumber cahaya. Tak lama berselang, para astronom mulai mempelajari informasi dari cahaya yang berasal dari bintang-bintang jauh. Pada tahun 1869, dua orang ilmuwan melakukan penelitian terpisah untuk mengarahkan spektroskop ke arah korona selama Gerhana Matahari Total. Saat cahaya Matahari menghilang karena tertutup Bulan, terjadi perubahan pada pola panjang gelombang.
Mereka menemukan sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya, yaitu garis hijau terang yang sama sekali tidak terkait dengan elemen apa pun yang ditemukan di Bumi. Untuk sementara waktu, para ilmuwan memberinya nama “koronium”. Hampir 70 tahun berselang, seorang ilmuwan Swedia menyadari bahwa garis-garis itu dihasilkan dari unsur-unsur seperti besi yang terlepas dari elektronnya. Setiap unsur memiliki jumlah elektron tertentu yang mengelilingi inti. Seiring pelepasan setiap elektron, dibutuhkan lebih banyak energi untuk melepaskan elektron berikutnya.
Garis hijau menunjukkan ada 13 dari 26 unsur seperti besi yang telah terlepas dari elektronnya, sekaligus mengindikasikan bahwa suhu di korona harus mencapai jutaan derajat, yang jauh lebih panas daripada permukaan Matahari. Sejak saat itu, para ilmuwan telah mengajukan berbagai teori tentang mekanisme yang dapat menghasilkan penambahan panas sebesar itu ke atmosfer. Satu teori menggagas bahwa gelombang-gelombang kecil di permukaan Matahari mendorong partikel dan panas ke atmosfer, hampir mirip dengan bagaimana gelombang laut mendorong para peselancar. Teori lain menggagas tentang ledakan-ledakan kecil dahsyat karena penyejajaran kembali medan magnet Matahari yang menghasilkan panas. Sementara tak sedikit ilmuwan yang menduga fenomena itu mungkin disebabkan karena campuran dari kedua teori itu.
Para ilmuwan sudah beberapa kali mempelajari korona dari Bumi selama terjadi gerhana, namun untuk memecahkan rahaisa terbesar yang disembunyikan oleh Matahari, para ilmuwan harus melakukan pengamatan secara langsung dari wilayah korona itu sendiri
0 Komentar